Sabtu, 20 Agustus 2011

DAERAH INDUSTRI KARAWANG, TANGERANG DAN BEKASI BERDASARKAN KONSEP CLUSTER


A.    Daerah Industri Karawang, Tangerang Dan Bekasi
Karawang merupakan daearah yang berkembang pesat karena perkembangan pada sektor industri dalam skala besar (kawasan industri), sedang dan kecil (zona industri). Luas lahan industri di kabupaten Karawang, seluruhnya berjumlah ±19.005,1 Ha terdiri dari: kawasan industri 5.837,5 Ha, kota industri 8.100 Ha, zona industri 5,117,6 Ha. Adanya alokasi lahan industri dengan jumlah yang cukup besar tersebut menjadi daya tarik bagi masuknya investor dan tenaga kerja dari dalam maupun luar daerah kabupaten Karawang. Sampai dengan akhir tahun 2000 jumlah investor yang masuk ke kabupaten karawang terdiri dari: Kawasan industri 19 perusahaan, kota industri 2 kawasan, zona industri 298 perusahaan. Angka yang begitu fantastik untuk sebuah daerah di Indonesia. garis pantai di wilayah Kabupaten Karawang yang mencapai 57 kilometer dan lokasinya yang diapit ibukota negara, Jakarta, dan ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung, membuat wilayah ini memiliki potensi tinggi sebagai daerah tujuan investasi.
Kemudian daerah industri yan tak kalah besar adalah Tangerang. Tangerang terletak pada 6o00 -6o20 Lintang Selatan dan 106o20 -106o43 Bujur Timur. Berbatasan dengan Laut Jawa disebelah utara, Kabupaten Bogor disebelah selatan, Kabupaten Lebak dan Serang disebelah barat, Kota Tangerang dan DKI Jakarta disebelah timur.Kabupaten Tangerang termasuk daerah tingkat dua yang menjadi bagian dari wilayah Provinsi Banten.
Jarak antara Tangerang dengan pusat pemerintahan Republik Indonesia, Jakarta, sekitar 30 km. Keduanya dihubungkan dengan jalur lalu lintas darat bebas hambatan Jakarta Merak yang menjadi alur utama lalu lintas perekonomian antara Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera.
Luas wilayah Kabupaten Tangerang 111.038 ha, dibagi kedalam 36 kecamatan dan 316 desa. Ketinggian wilayah berkisar antara 0-85 m di atas permukaan laut. Cuaca hujan setahun rata-rata 1.745 mm dan temperatur udara berkisar antara 23o C 33oC. Iklim ini dipengaruhi oleh wilayah di bagian utara yang merupakan daerah pesisir pantai dengan panjang kurang lebih 50 km. Wilayah Tangerang juga dibagi ke dalam tiga wilayah pusat pertumbuhan yaitu Serpong, Balaraja dan Tigaraksa, serta Teluknaga.
Tangerang bercita-cita ingin memperkuat basis perekonomian berada di tangan rakyat. Salah satu upaya untuk mewujudkan keinginan tersebut adalah dengan membangun pusat pameran industri terutama untuk hasil industri kecil dan hasil kerajinan rakyat. Lokasi yang direncanakan berada di kawasan Bumi Serpong Damai dengan memanfaatkan cadangan lahan seluas 5.000 m2.Selain itu juga akan dibangun sub terminal Agro Balaraja. Secara administratif Kabupaten Tangerang terbagi atas 26 kecamatan dengan luas wilayah 1.110,38 km2
Perekonomian Tangerang didominasi oleh industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran. Kabupaten Tangerang adalah salah satu kantung industri Indonesia. Terutama karena keberadaannya juga memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah dalam wilayah Jabotabek. Kegiatan industri yang menyita lebih dari 50 persen potensi ekonomi daerah setempat memberi peran yang tidak sedikit terhadap daerah lain, terutama yang menyangkut distribusi manusia dan barang, dan sektor lain yang terkait dengan dua hal ini.
Di sektor pertanian, Tangerang dikenal sebagai lumbung padi. Namun setelah lahan-lahan persawahan berubah menjadi lahan industri dan pemukiman, luas areal pertanian dan hasil produksi padi terus menurun. Namun demikian, produksi ini bisa kembali dikembangkan dengan penerapan teknologi budidaya dan industri pengolahan hasil panen tepat guna.
Terdapat beberapa jenis tanaman lainnya dengan produksi lebih kecil, yaitu aren, cengkeh, kakao, jahe, jambu mete, kapuk, karet, kenanga, kencur. kopi, kumis kucing, lada, melati, melinjo, mendong, nipah, pandan, pandan wangi, pinang, sereh sayur, sirih, tebu, temu lawak, dan vanili. Di sektor perikanan, Industri pengolahan ikan yang dapat didirikan misalnya industri pengalengan ikan, industri pengasinan dan pengeringan ikan, industri pengasapan ikan, pembuatan krupuk ikan.
Selanjutnya kawasan industri yang lain adalah Bekasi. Bekasi adalah daerah yang memiliki kawasan industri yang cukup banyak. Sekedar menyebutkan nama, ada Kawasan Industri Jababeka, EJIP (East Jakarta Industrial Park), MM2100, Delta Silicon Industrial Park, Hyundai Industrial Park, BIIE (Bekasi International Industrial Estate) dan beberapa kawasan industri yang lebih kecil. Kawasan industri yang menampung banyak perusahaan ini menjadi salah satu magnet mengapa Bekasi diminati oleh banyak pengembang perumahan. Alasannya, semakin banyak perusahaan, semakin besar pula kebutuhan perumahan untuk para pekerjanya. Selain terkenal sebagai kota industri, Bekasi juga terkenal sebagai kota perumahan.
Salah satu kawasan industri yang terkenal di Bekasi adalah kawasan Industri Jababeka di Cikarang. Dari Jakarta, Kawasan Industri Jababeka dapat dicapai melalui berbagai jalur. Yang paling mudah adalah melalui Tol Jakarta Cikampek dan keluar di pintu tol Cikarang. Alternatif kedua adalah melalui jalan negara Jakarta - Cikampek melalui Bekasi - Tambun - Cibitung - Cikarang. Dari terminal Cikarang, Jababeka dapat dicapai dengan menggunakan Angkot-angkutan perkotaan-KOASI (Koperasi Angkutan Bekasi) K-17 dan K-33. Alternatif lainnya adalah melalui jalur Cileungsi / Jonggol melewati kawasan Cikarang pusat. Dari arah Karawang - Cikampek, Jababeka dapat dicapai melalui tol maupun jalan negara Jakarta Cikampek.
Kawasan Industri Jababeka terdiri dari 2 kawasan, yaitu Jababeka I dan Jababeka II. Jababeka II merupakan pengembangan dan perluasan dari Jababeka I. Lokasi keduanya dipisahkan oleh Jalan Industri yang melintas mulai dari Terminal / Pasar Cikarang hingga Kawasan EJIP. Dari arah Jakarta, Jababeka I terletak pada sisi kiri, sedangkan Jababeka II terletak pada sisi kanan. Jababeka II berdekatan dengan perumahan kota Cikarang Baru.
Kawasan industri di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Di daerah penyangga Ibu Kota ini terdapat enam kawasan industri, yakni Jababeka, Lippo Cikarang, Hyundai, MM 2100, Delta Mas, dan East Jakarta Industrial Park (EJIP). Di kawasan industri raksasa itu terdapat sedikitnya 2.700 pabrik yang dapat menyerap sebanyak 376 ribu tenaga kerja. Kabupaten ini juga memiliki zona industri lainnya yang dihuni sekitar 500 pabrik.
Jabar merupakan sentra industri tekstil utama di Indonesia, dengan lebih dari 696 pabrik tekstil dan menyerap sekitar 700 ribu tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, ada 90 pabrik tekstil yang tersebar di Bekasi. Bekasi juga memiliki seabrek pabrik besar lainnya, mulai dari sektor otomotif, elektronik, logam, kertas, kimia, plastik, jasa, dan konstruksi.

B.     Analisis
Kapasitas produktif dipandang sebagai suatu proses sosial yang dinamis yang acapkali berhasil berkembang dalam suatu jaringan di mana interaksi intensif terjadi antara pelaku yang “menghasilkan/menyediakan” pengetahuan dan pelaku yang “membeli dan menggunakan” pengetahuan. Sehubungan dengan itu, klaster industri sering dinilai sebagai alat kebijakan yang penting yang terkait dengan sistem inovasi nasional.
Klaster industri akan berperan sebagai mekanisme bagi pertukaran pengetahuan dan informasi, terutama bagi elemen terpentingnya yang justru (dipandang) sebagai bagian yang tak “terkodifikasi (codified)” atau bersifat tacit (lekat dengan orang dan/ atau kelembagaan). Pengetahuan yang tacit semakin penting seiring dengan cepatnya perubahan lingkungan ekonomi global.
Perusahaan yang bersaing satu dengan lainnya akan berusaha mencarai cara untuk dapat bekerjasama dalam pengembangan produk ataupun merebut pasar. Pola kerjasama biasanya didasarkan atas kepercayaan, ikatan keluarga, dan tradisi. Belakangan, keterikatan sosial (social embeddedness) nampaknya banyak melandasi perkembangan konsep tersebut. Di Indonesia pun, fenomena demikian nampaknya lebih mungkin dijumpai di sentra-sentra industri kecil, yang secara historis telah berkembang lama (turun-temurun dari suatu generasi ke generasi berikut) dan “keterikatan” sosial dan kultural antar pelaku telah menjadi bagian sangat penting dari komunitas sentra.Persaingan (karena struktur industri dan/ataupun semangat berkompetisi dari perusahaan dalam industri) akan sangat mempengaruhi pembelajaran, inovasi dan kewirausahaan, yang akan membentuk pola perkembangan ekonomi daerah.
Berkaitan dengan adanya daerah industri Karawang, Tangerang dan Bekasi berdasarkan konsep kluster, maka dapatlah dijelaskan terlebih dahulu tentang kluster industri. Klaster industri adalah kelompok industri spesifik yang dihubungkan oleh jaringan mata rantai proses penciptaan/peningkatan nilai tambah. Kelompok industri spesifik tersebut merupakan jaringan dari sehimpunan industri yang saling terkait (biasanya disebut dengan industri inti/core industries yang menjadi “fokus perhatian,” industri pendukungnya/supporting industries, dan industri terkait/related industries), pihak/lembaga yang menghasilkan pengetahuan/ teknologi (termasuk perguruan tinggi dan lembaga penelitian, pengembangan dan rekayasa/litbangyasa), institusi yang berperan menjembatani/bridging institutions (misalnya broker dan konsultan), serta pembeli, yang dihubungkan satu dengan lainnya dalam rantai proses peningkatan nilai (value adding production chain).
Dalam pengertian ini, industri “inti, pendukung, atau terkait” sebenarnya sama pentingnya. Istilah tersebut lebih menunjukkan “peran” setiap industri - bukan menunjukkan yang satu lebih penting dari yang lain.
Di sini, juga perlu dipahami bahwa pelaku dengan beragam skala usaha (kecil, menengah, besar) berperan pada posisi masing-masing yang paling tepat dan tidak untuk “mendiskriminasikan” dan/atau mengasumsikan praktik-praktik predatory business (saling “mematikan”).
Pemahaman bersama tentang klaster industri tertentu dapat membantu persoalan yang dihadapi dan bagaimana para pelaku bisnis beserta pemangku kepentingan (stakeholders) mencari solusi terbaik bersama, baik melalui self-organization maupun intervensi efektif dari pemerintah.
Kebijakan industri yang tidak fokus itu sudah terjadi sejak era tahun 1990-an. Di era itu, kebijakan industri tidak memilih secara tegas produk apa yang akan dikembangkan, bagaimana penyiapan infrastrukturnya dan bagaimana strateginya untuk melakukan penetrasi pasar.
Selain itu, insentif apa yang disediakan oleh pemerintah agar investasi bisa mengarah ke sektor industri yang disasar dalam upaya melahirkan industri yang memiliki kedalaman. Kebijakan broad spectrum (berspektrum luas) membuat sektor industri tidak fokus. Kegiatan industri menyebar di mana-mana seperi karawang, Tangerang dan bekasi tidak mempunyai keunggulan apa pun.
Produk yang dihasilkan oleh industri yang ada hanya sekadar mengisi pasar, apakah itu industri kertas, bubur kertas, elektronik, otomotif, baja, mebel, kayu lapis, tekstil dan produk tekstil, sepatu, industri makanan olahan, dan sebagainya. Semuanya bisa masuk ke pasar ekspor, dengan kemampuan bersaing yang tanggung, dan mengalami ketergantungan impor yang tinggi.
Adanya kawasan industri karawang, Tangerang dan Bekasi berdasarkan konsep kluster ternyata tidak memperkuat bagi daerah untuk terus maju dan tidak mempunyai “keserupaan” aktivitas bisnis, dan tidak merupakan bagian integral dari jalinan rantai nilai sebagai suatu klaster industri. Dalam konteks eksternalitas ekonomi statik, perusahaan umumnya cenderung tidak mengelompok dengan perusahaan lain yang erat dengan kepentingannya.

1 komentar:

  1. kabupaten karawang adalah kawasan industri paling terbesar di "ASIA TENGGARA", dengan banyaknya kawasan industri PEMDA kabupaten karawang dapat penghasilan yg sangat besar. belakangan ini bupati karawang telah mengratiskan pendidikan hingga tingkat SMA, program wajib pendidikan 12 tahun yang baru terlaksana hanya ada di kab. karawang untuk di negara kita ... tetapi PEMDA karawang belum dapat menuntaskan kemiskinan ...

    BalasHapus